Sabtu, 07 Maret 2015

Muhasabah Diri Lebih Utama



            Sesekali orang sering berfikir tentang dirinya, apa saja yang telah dilakukan selama ini, telah menghasilkan apa, apakah ada manfaat tersembunyi ataukah hanya terdapat madharat semataa. Sedikit atau banyak pasti memberikan pelajaran yang dapat diambil tentang semua yang telah dilakukan di masa lampau.
            Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan pada dirinya. Terkadang kelebihan itu membuat bangga pada diri seseorang tanpa peduli masih banyak kekurangan yang dimiliknya. Mudah sekali untuk memahami diri bahwa orang tersebut mempunyai kelebihan, tetapi sebaliknya terkadang tak sadar bahwa ia memiliki kekurangan, terlebih pada sifat dan perilaku.
            Ketika seseorang mendapat musibah seringkali menyalahkan orang lain, padahal musibah itu akibat dari perbuatannya sendiri. Namun seseorang terkadang tidak tahu dan tidak menelaah dirinya dengan muhasabah yang benar, sehingga orang lain menjadi sasaran amarahnya. Hal inilah yang akan menimbulkan kedengkian antar sesama.
            Selama seseorang tidak pernah merasa bersalah, ia akan terus mempertahankan sifat buruknya dan tidak mau memperbaikinya. Karena menurutnya sifat yang dimiliki benar adanya. Saat ia mulai sadar bahwa ia melakukan hal negatif, saat itulah ia mendapatkan pencerahan untuk mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan.
Seseorang yang lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan seseorang yang masih sama seperti hari kemarin adalah orang yang merugi dan orang yang lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang dilaknat. Agar hidup lebih baik dan mudah meraih keberhasilan dalam hal agama maupun dunia hendaknya meningkatkan kualitas hal-hal positif dan mengurangi segala hal-hal negatif.
Introspeksi atau muhasabah diri itu lebih baik. Dengan bertanya kepada dirinya sendiri tentang perbuatan yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan memastikan apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupannya sesuai dengan perintah-perintah Allah SWT. Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan agar hidup ini menjadi semakin berkualitas. Hal ini menjadi sesuatu yang urgen agar hidup ini tidak menjadi sia-sia.
Secara berkala kita perlu melakukan evaluasi. Ketika berhadapan dengan peristiwa di mana kita harus belajar dan membiasakan introspeksi diri. Bercermin untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan pribadi, agar dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Introspeksi diri yang paling baik adalah yang paling jujur. Intinya harus tahu dulu apa yang benar, baru bisa mengenali apa yang salah
            Cukup dengan meluangkan waktu sejenak untuk berfikir dan merenung guna menilai segala hal yang ada di dalam hati dan pikiran. Dengan demikian sifat pribadi yang sebenarnya akan mudah ditemukan.
            Beruntunglah bagi orang yang mengenal dirinya sendiri, karena ia akan sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari aib orang lain. Orang yang pandai adalah yang mampu mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan di akhirat kelak. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.
            Proses melakukan muhasabah diri, seseorang hendaknya tidak terlalu negatif dalam menilai diri dan lingkungannya. Ia harus belajar membuka lebar pola pikirnya agar lebih positif dan dapat memberdayakan. Sebab jika seseorang terlalu kritis dan negatif maka dampak dari introspeksi diri tersebut justru akan menjadikan seseorang yang rendah diri, tertutup dan terlalu sensitif.
            Introspeksi atau muhasabah diri perlu dilakukan ketika akan melakukan sesuatu, setidaknya mempunyai jawaban-jawaban dari pertanyaaan berikut. Pertama, apakah perbuatan yang diiginkan mampu dilakukan atau tidak. Kedua, apakah perbuatan itu sesuai syariat. Ketiga, apakah perbuatan itu akan dilakukan ikhlas karena Allah.
            Sedangkan setelah melakukan sesuatu diperlukan muhasabah atas ketaatan yang diabaikan, muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada dilakukan dan muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar