Sesekali orang sering berfikir
tentang dirinya, apa saja yang telah dilakukan selama ini, telah menghasilkan
apa, apakah ada manfaat tersembunyi ataukah hanya terdapat madharat semataa.
Sedikit atau banyak pasti memberikan pelajaran yang dapat diambil tentang semua
yang telah dilakukan di masa lampau.
Setiap orang pasti memiliki
kelebihan dan kekurangan pada dirinya. Terkadang kelebihan itu membuat bangga
pada diri seseorang tanpa peduli masih banyak kekurangan yang dimiliknya. Mudah
sekali untuk memahami diri bahwa orang tersebut mempunyai kelebihan, tetapi
sebaliknya terkadang tak sadar bahwa ia memiliki kekurangan, terlebih pada
sifat dan perilaku.
Ketika seseorang mendapat musibah
seringkali menyalahkan orang lain, padahal musibah itu akibat dari perbuatannya
sendiri. Namun seseorang terkadang tidak tahu dan tidak menelaah dirinya dengan
muhasabah yang benar, sehingga orang lain menjadi sasaran amarahnya. Hal inilah
yang akan menimbulkan kedengkian antar sesama.
Selama seseorang tidak pernah merasa
bersalah, ia akan terus mempertahankan sifat buruknya dan tidak mau
memperbaikinya. Karena menurutnya sifat yang dimiliki benar adanya. Saat ia
mulai sadar bahwa ia melakukan hal negatif, saat itulah ia mendapatkan
pencerahan untuk mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan.
Seseorang
yang lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan
seseorang yang masih sama seperti hari kemarin adalah orang yang merugi dan
orang yang lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang dilaknat. Agar hidup
lebih baik dan mudah meraih keberhasilan dalam hal agama maupun dunia hendaknya
meningkatkan kualitas hal-hal positif dan mengurangi segala hal-hal negatif.
Introspeksi
atau muhasabah diri itu lebih baik. Dengan bertanya kepada dirinya sendiri
tentang perbuatan yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan memastikan
apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupannya sesuai dengan
perintah-perintah Allah SWT. Semua
itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan agar hidup ini menjadi semakin
berkualitas. Hal ini menjadi sesuatu yang urgen agar hidup ini tidak menjadi
sia-sia.
Secara berkala kita perlu melakukan
evaluasi. Ketika berhadapan dengan peristiwa di mana kita harus belajar dan
membiasakan introspeksi diri. Bercermin untuk mengetahui kekurangan dan
kelemahan pribadi, agar dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Introspeksi
diri yang paling baik adalah yang paling jujur. Intinya harus tahu dulu apa
yang benar, baru bisa mengenali apa yang salah
Cukup dengan meluangkan waktu
sejenak untuk berfikir dan merenung
guna menilai segala hal yang ada di dalam hati dan pikiran. Dengan demikian
sifat pribadi yang sebenarnya akan mudah ditemukan.
Beruntunglah bagi orang yang
mengenal dirinya sendiri, karena ia akan sibuk memperbaiki dirinya daripada
mencari-cari aib orang lain. Orang
yang pandai adalah yang mampu mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk
kehidupan di akhirat kelak. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang
mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.
Proses
melakukan muhasabah diri, seseorang hendaknya tidak terlalu negatif dalam
menilai diri dan lingkungannya. Ia harus belajar membuka lebar pola pikirnya
agar lebih positif dan dapat memberdayakan. Sebab jika seseorang terlalu kritis
dan negatif maka dampak dari introspeksi diri tersebut justru akan menjadikan
seseorang yang rendah diri, tertutup dan terlalu sensitif.
Introspeksi
atau muhasabah diri perlu dilakukan ketika akan melakukan sesuatu, setidaknya
mempunyai jawaban-jawaban dari pertanyaaan berikut. Pertama,
apakah perbuatan yang diiginkan mampu dilakukan atau tidak. Kedua, apakah
perbuatan itu sesuai syariat. Ketiga, apakah perbuatan itu akan dilakukan
ikhlas karena Allah.
Sedangkan
setelah melakukan sesuatu diperlukan muhasabah atas ketaatan yang diabaikan,
muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada
dilakukan dan muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.