Sabtu, 06 Desember 2014

Tolong Versus Terima Kasih

Ketika kita sedang kesulitan dalam melakukan sesuatu, apa yang harus kita lakukan? Ketika kita sedang menghadapi masalah, apa yang harus kita lakukan? Ketika kita sedang dilanda musibah, apa yang harus kita lakukan?

Selain berdo'a kita pasti butuh bantuan orang lain. Yups, benar sekali. Kehidupan manusia tak akan lepas oleh bantuan orang lain. Contohnya, saat kita mengerjakan tugas kuliah lalu kita kesulitan mengerjakannya. Pasti kita berusaha mencari jalan keluarnya, salah satunya minta bantuan pada orang lain yang lebih ahli dalam bidang tugas kuliah tersebut.

Meskipun demikian, jika minta bantuan harus dengan tata cara yang baik, perkataan yang halus, sopan santun, dan jangan membentak-bentak. Misalnya, "Mbak, boleh minta tolong nggak? Saya kesulitan membuat tugas ini, mbak bisa bantuin nggak?". Dengan begitu orang yang kita mintai bantuan akan melaksanakan dengan ikhlas, tanpa beban dan tidak merasa disuruh.

Jika orang tersebut sedang sibuk dan tidak bisa diganggu, maka kita harus memaklumi dan tidak boleh memaksanya untuk membantu kita. misanya dengan berkata "Maaf, mbak kalau sedang sibuk".

Hal tersebut kita lakukan tidak lain karena mengakui bahwa manusia adalah makhluk lemah yang masih membutuhkan terhadap pencipta-Nya. Karena hanya Allah-lah yang maha segalanya. Walaupaun manusia yang sering kali membantu kita, namun pada hakekatnya manusia hanyalah suatu perantara dari Allah.

Setelah mendapatkan bantuan dari orang lain, pasti beban kita terasa sedikit ringan. Karena jika sesuatu dikerjakan bersama-sama pasti terasa ringan dan sebaliknya jika sesuatu itu dilakukan sendirian pasti terasa berat. Tapi harus digaris bawahi tidak untuk waktu ujian atau test.

Eits, tidak hanya begitu saja etikanya. Setelah minta bantuan orang lain biasakan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih mbak, sudah dibantuin", misalnya. Dengan begitu orang tersebut tidak akan segan untuk membantu kita lagi dan puas dengan apa yang dia berikan pada kita.

Rasa terima kasih terhadap manusia juga termasuk rasa syukur kita terhadap nikmat-nikmat yang Allah berikan. Oleh karena itu, jangan malu-malu ucapkan terima kasih jika mendapat sesuatu dari orang lain, meskipun hanya bantuan kecil belaka.


Senin, 20 Oktober 2014

Mbah Ma'shum Lasem Rembang






A.    Biografi KH. Ma’shum Ahmad
            Nama asli beliau adalah Muhammadun. Beliau adalah putra ketiga dari tiga bersaudara pasangan Kyai Ahmad dan Nyai Qosimah. Lahir di desa Soditan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada tahun 1870 M/ 1290H.[1] Tidak di ketahui tanggal berapa lahirnya, hanya dapat memperkirakan tahunnya saja, karena tidak ada yang mengetahui tepatnya tanggal kelahirannya dan saat itu orang-orang juga tidak memelihara tanggal kelahiran mereka. Setelah itu namanya diganti menjadi Ahmad Ma’shum setelah melakukan ibadah haji dan terkenal dengan nama Mbah Ma’shum.
            Ayah dari Mbah Ma’shum yaitu Kyai Ahmad adalah seorang pedagang yang cukup. Juga merupakan seseorang yang memiliki visi keagamaan yang cukup tinggi. Beliau juga masih keturuanan dari Sultan Minangkabau. Selain Mbah Ma’shum Kyai Ahmad juga mempunyai dua putri yaitu Nyai Zainab dan Nyai Fatimah yang sama-sama lahir dan meninggal di Lasem Rembang.
            Sejak kecil hingga menginjak dewasa, Mbah Ma’shum menimba banyak pengetahuan dari berbagai kyai baik di Lasem maupun di luar Lasem. Beberapa kyai yang didatangi oleh Mbah Ma’shum untuk menimba ilmu antara lain Kyai Ahmad bin Abdul Karim (ayah), Kyai Nawani dari Sinanggul Mlonggo Jepara, Kyai Abdullah dari Kajen, Kyai Abdussalam dari Kajen, Kyai Siroj dari Kajen, Kyai Umar bin Harun dari Sarang Rembang, Kyai Ma’shum dari Damaran Kudus, Kyai Syarofuddin dari Kudus, Kyai Ridwan dari Semarang, Kyai Idris dari Jamsaren Solo, Kyai Dimyati at Turmusi dari Termas, Kyai Hasyim Asy’ari dari Tebu Ireng, Kyai Kholil Abdul Latif dari Bangkalan, Kyai Mahfudz at Turmusi dari Makkah dan masih banyak lagi kyai yang di datangi oleh Mbah Ma’shum.[2]
            Mbah Ma’shum melakukan pernikahan dua kali yaitu dengan Roudhoh Muslihatun binti Kyai Mustofa dari desa Sumbergirang Kecamatan Lasem kabupaten Rembang. Mereka tidak di karuniai anak hingga mereka berpiasah karena Nyai Muslihatun meninggal dunia. Kemudian pernikahan kedua dilakukan Mbah Ma’shum setelah beberapa tahun sepeninggal Nyai Muslihatun. Pada usia 36 tahun, tepatnya tahun 1906 M/ 1323H Mbah Ma’shum menikah dengan Nyai Nuriyyah binti KH. Zainuddin bin KH. Abdul Latif. Nyai Nuriyyah lahir pada tahun 1895 M/1312 H, berarti Nyai Nuriyyah menikah pada usia 11 tahun. Akan tetapi mereka berkumpul dan tinggal serumah saat Nyai Nuriyyah berusia 14 tahun. Mereka di karuniai 13 putra, 8 diantaranya meninggal dunia di waktu kecil dan 5 masih hidup dan meneruskan perjuangan Mbah Ma’shum.
            Putranya yang masih hidup antara lain KH. Ali Ma’shum sebagai pendiri dan pengasuh pondok pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Putra yang kedua adalah Nyai Fatimah yaitu pendiri pondok pesantren Al-Fath Ngemplak Lasem. Putra ketiganya adalah KH. Ahmad Syakir yang menikah dengan Nyai Faizah seorang khafidzoh dan ahli tafsir dari Solo. Kemudian putra selanjutnya adalah Nyai Azizah yang menikah dengan Kyai Ali Nu’man dan sampai saat ini masih mengasuh di pondok pesantren Al-Hidayat Lasem. Yang terakhir yaitu Nyai Hamnah menikah dengan KH. Sa’dullah Taslim pengasuh pondok pesantren At-Taslim di Demak. Sedangkan putra-putrinya yang sudah meninggal antara lain Zainuddin, Sholihah, Aba Qosim, Asmu’i, Salamah, Muznah, Sa’adah, Abdul Jalal. Mereka meninggal dunia sejak masih kecil.
B.     Petualangan Sang Pedagang
            Setelah sekian lama melakukan pencarian ilmu di berbagai daerah, Mbah Ma’shum memasuki dunia baru yaitu menikah. Untuk menghidupi keluarganya Mbah Ma’shum mengikuti profesi orang tuanya sebagai pedagang. Perdagangannya tidak hanya di pasar Lasem saja, melainkan hingga ke pasar Ploso Jombang. Dagangannya saat itu adalah baju grito (baju untuk bayi). Baju tersebut dibuat oleh Mbah Nuri lalu di jual Mbah Ma’shum. Tetapi kebiasaan mereka ini tidak berlangsung lama karena mbah Nuriyyah menginginkan Mbah Ma’shum untuk menjadi Kyai.
            Mbah Nuriyyah waktu itu juga berjualan nasi pecel. Mbah ma’shum pernah juga berjualan petromaks. Dalam manaqib mbah Ma’shum di terangkan barang dagangan yang di jual mbah Ma’shum antara lain sendok, garpu, konde dan peniti.
            Di pasar Ploso beliau berdagang sambil mengajar ilmu pengetahuan agama kepada orang-orang yang di sekitar sana. Hal ini tak lepas dari kenyataan jaman dulu bahwa orang-orang mengaji bisa dimana saja. Selain di pasar beliau juga mengajar di masjid dekat pasar Ploso. Beliau juga sering berkunjung ke Tebu Ireng untuk mengaji kepada KH. Hasyim Asy’ari, walaupun usianya lebih tua dari KH. Hasyim Asy’ari. Hal inilah sebagai bukti keteladanan Mbah Ma’shum dalam mencari ilmu, karena beliau tetap menuntut ilmu kepada siapa saja sekalipun beliau sudah menjadi kyai dan orang yang di datanginya lebih muda darinya.
C.    Mendirikan Pesantren dan Mengurus Santri
            Mbah Ma’shum bermimpi bertemu dengan kanjeng Nabi Muhammad, dan mendapat nasihat supaya meninggalkan perdagangan serta berganti mengajar. Mimpinya bertemu kanjeng nabi itu terjadi selama beberapa kali.
            Mimpi itu terjadi di beberapa tempat, di Stasiun Bojonegoro, saat antara tidur dan terjaga, beliau berjumpa Kanjeng Rasul SAW yang memberinya nasihat: “La khaira illa fi nasyr al-‘ilmi” (Tiada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu).[3]
            Beliau juga bermimpi bersalaman dengan Kanjeng Rasul SAW dan setelah bangun tangannya masih berbau wangi. Beliau juga bermimpi bertemu Nabi SAW sedang membawa daftar sumbangan untuk pembangunan pesantren dan berpesan kepada Mbah Ma’shum: “Mengajarlah!, dan segala kebutuhanmu insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.”
            Setelah mimpi bertemu rasul berkali-kali, beliau bertanya-tanya dan memikirkan beberapa hal yaitu:
1.      Kalau saya mendirikan pesantren, lalu bagaimana saya mencari makan?
2.      Kalau saya mendirikan pesantren, lalu bagaimana dengan pesantren Kyai Kholil (pendiri pondok pesantren An Nur) yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah saya? Apakah pesantren yang saya dirikan itu bisa di minati orang, padahal di dekat saya sudah ada Kyai Kholil?
3.      Kalau saya membuat pesantren, uang pembangunan dari mana?
4.      Kalau saya telah mendirikan pesantren, yang saya ajarkan kepada para santri kitab apa?
                        Melalui mimpi juga kanjeng Nabi Muhammad menegaskan supaya beliau segera berhenti berdagang dan segera mengajar. Urusan dunia seperti makan dan lainnya, Allah akan menjamin, sedangkan urusan dana pembangunan, Mbah Ma’shum bisa meminta bantuan dana kepada orang lain. Mengenai kitab yang harus di ajarkan oleh beliau adalah kitab apa saja yang berisi tentang keagamaan.
                        Setelah beberapa mimpi yang dialami oleh Mbah ma’shum, kemudian ia meyakini dan akan melaksakan apa yang dianjurkan Nabi Muhammad lewat mimpi
                        Bangunan pertama pondok yang di dirikan oleh Mbah Ma’shum adalah semacam musholla yang di gunakan untuk shalat berjama’ah dan pengajian para santri. Kemudian beberapa hari banyak santri yang berdatangan untuk menimba ilmu kepada beliau. Akhirnya beliau membangun lagi semacam asrama-asrama sederhana di sekitar rumah beliau untuk tempat tinggal para santri. Karena santrinya tidak hanya dari Lasem saja tetapi dari daerah-daerah lain juga. Bangunan itu di bangun berkomplek-komplek.
                        Nama yang di berikan Mbah Ma’shum untuk pondok tersebut adalalah Al hidayat. Awal mula santri berjumlah 26 orang. Beliau juga memberi makan santrinya satu kali sehari. Hal ini terjadi saat awal pengajaran Mbah Ma’shum atau pertengahan perkembangan pesantren yaitu sekitar tahun 1917 M .
                        Pondok yang di dirikan Mbah Ma’shum ini sempat vakum pada tahun 1941 M selama 3,5 tahun, karena adanya serangan dari Jepang di daerah Rembang. Pondok Al Hidayat juga menjadi serangan Jepang karena terdapat Laskar Hizbullah Lasem yang bermarkas di pondok tersebut. Oleh karena itu para santri di pulangkan ke tempatnya masing-masing, padahal pada waktu itu santrinya mencapai ratusan.
                        Tidak hanya jepang yang menyerang Rembang, tetapi Belanda juga turut menyerangnya pada tahun 1949 M. Mbah Ma’shum dan keluarganya mengungsi di suatu tempat yang jauh dari kota, karena beliau di kejar oleh Belanda dan  termasuk tokoh yang berpengaruh bagi masyarakat. Tetapi di tengah-tengah pengejaran oleh Belanda Mbah Ma’shum tetap berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain untuk koordinasi dengan jama’ah tentang Belanda tersebut
                        Perhatian Mbah Ma’shum kepada para santrinya sangat besar. Figur beliau mencerminkan sebagai guru dan orang tua. Beliau sangat istiqomah dalam berbagai hal, beliau juga tak segan-segan membangunkan santri-santrinya untuk shalat malam atau shalat shubuh berjama’ah. Jika santrinya mengalami kesulitan dalam suatu hal, beliau selalu membantu. Sosoknya sebagai pengasuh pondok pesantren sangat di segani santrinya, terkadang beliau seperti teman yang enak di ajak ngobrol.
                        Meningkatkan SDM (sumber daya manusia) kepada santri sangat penting bagi beliau. Tidak hanya pembelajaran tentang kitab kuning tetapi juga pengamalan kitab kuning dan praktik dalam kehidupan bermasyarakat juga sangat di anjurakan oleh beliau pada santrinya. Salah satu prinsip beliau adalah semangat dalam menghidupkan kegiatan belajar mengajar dan bukan tentang kapasitas. Maksudnya, kemauan seseorang untuk mengajar itu lebih penting daripada kapasitas seseorang. Dengan demikian, dengan mendididk kader yang mau mengajar lebih di fokuskan ketimbang menciptakan santri yang pintar. Beliau mentasarrufkan hal ini dengan menyuruh sebagian santrinya yang dianggap mampu untuk mengajar. Walaupun beliau percaya kepada santri tersebut, beliau juga tetap berada dalam majlis untuk menunjukkan rasa perhatiannya, baik sekedar untuk membenarkan bacaan atau makna pada kitab yang diajarkan.
                        Di usianya yang semakin sepuh beliau tetap mengajar kitab-kitab kepada para santrinya. Prinsip lain yang di amalkan beliau adalah istioqomah atau konsistensinya yang sangat tinggi. Argument beliau yaitu beristiqomahlah, karena istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah. Selain istiqomah, beliau juga sangat tegas, baik dalam kelurganya atau santri sekalipun. Hal ini di maksudkan agar terbiasa untuk disiplin dalam segala hal.
                        Di lain sisi, beliau juga senang mengunjungi para santrinya baik santri yang masih dalam status belajar atau sudah berada di masyarakat. Tidak sekedar mengunjungi, tetapi juga sebagai bentuk perhatiannya kepada para santri. Beliau menanyakan hal-hal yng berkaitan dengan masyarakat di sekitar santri itu, dan apa peran santri itu dalam masyarakat, apakah sudah berguna bagi masyarakat di sekitarnya apa belum. Jika belum, beliau segera menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat di sekitar mereka. Mbah Ma’shum selalu memberi saran kepada mereka untuk perkembangan masyarakat di sekitarnya.
D.    Peran Kebangsaan dan Nasionalisme
            Sebagai kyai NU beliau juga gigih berjuang mendukung membesarkan NU bersama kyai-kyai lainnya. Beliau amat mencintai organisasi ini, sehingga beliau menyatakan tidak ridha jika anak keturunannya tidak mengikuti NU. Dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama’, baliau juga mempunyai peran penting. Para tokoh pendiri NU meminta pemikiran-pemikiran Mbah Ma’shum tentang NU. Maka dari itu mereka sering sowan kepada beliau untuk menanyakan saran dan pemikirannya. Namun dalam sejarah, peran beliau terlihat amat kecil, eksistensi beliau tidak terlalu tampak pada saat itu. Meskipun seperti itu, di akui atau tidak, banyak pemikiran Mbah Ma’shum yang selama itu menjadi referensi penting bagi perjalanan NU, meskipun tidak memiliki jabatan formal dalam organisasi tersebut.
            Dalam muktamar NU beliau selalu ikut serta, dari pendirian kali pertama hingga muktamar NU yang ke XXV di Surabaya.[4] Selain itu, juga termasuk anggota Konstituante Kabinet Sastro Amijoyo tahun1955 M. Hal ini sebagai bukti kepedulian beliau terhadap urusan kenegaraan.
            Serangan PKI juga di rasakan oleh beliau. Rembang adalah termasuk kota sasaran para PKI, karena penduduknya yang sangat kuat keislamannya dan banyak para kyai yang mampu mempengaruhi masyarakat dalam memeluk agama islam. Waktu itu orang-orang yang di serang oleh PKI adalah para kyai dan salah satunya adalah Mbah Ma’shum. Akibat dari itu, beliau melakukan perjalanan di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini di maksudkan karena menghindar dari incaran orang-orang PKI serta konsolidasi umat islam dalam rangka mensikapi permasalahan social dan politik.
E.     Hubungan Kemanusiaan
            Mbah ma’shum dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada zamannya. Beliau telah memiliki nama besar di dunia dakwah islamiyah dan pesantren serta organisasi dan perpolitikan, akan tetapi beliau masih dekat dengan masyarakat sekitarnya. Buktinya beliau sering bershadaqah kepada tetangga dan masyarakat miskin. Selain itu, beliau juga banyak mendirikan masjid seperti masjid di desa Tulis, di Kajar dan di Gowak yang ada di kecamatan Lasem, masjid Kali Tengah di Pancur dan masjid Kolowelang.
             Begitu pula terhadap kaum menengah ke bawah, yaitu fakir miskin, beliau sangat memerhatikan dengan menyisihkan hartanya kepada mereka.  Beliau memberikan apa yang orang lain butuhkan sekalipun beliau sedang menggunakannya. Beliau juga sering meminta kepada orang yang lebih kaya darinya, tetapi permintaan itu bukan untuknya tapi untuk orang yang lebih membutuhkan. Hal ini di maksudkan untuk memberi pengajaran kepada masyarakat yang mampu supaya mau bersedekah kepada yang butuh. Namun rasa kedermawanannya tidak mengurangi silaturrahimnya terhadap orang-orang menengah keatas.
            Mbah ma’shum sangat senang sekali mengunjungi rumah para santri, kyai, kerabat dan masyarakat bahkan non muslim. Hal ini di maksudkan untuk menjalin silaturrahim antar sesama. Untuk berkunjung kepada non muslim adalah bentuk toleransi beliau dengan orang yang beragama lain. Ketika menerima tamupun beliau sangat memuliakannya, bahkan beliau selalu menghidangkan makanan dan mengajak makan bersama beliau.
            Meskipun beliau sebagai kyai tetapi tidak menonjolkan cirinya sebagai kyai, seperti tidak memakai peci haji atau surban. Menurut beliau, seorang kyai tidak harus menggunakan barang semacam itu. Dzikir beliau tidak harus dengan bacaan tertentu dan dalam waktu yang lama. Berdzikir kepada Allah juga bisa dilakukan langsung secara praktek, seperti mengajar dan menolong orang.
F.     Mbah Ma’shum Wafat
            Kesehatan Mbah Ma’shum turun drastis sejak tanggal 14 Robi’ul Awal 1392 H atau 28 April 1972 M. Hingga pada akhirnya beliau masuk rumah sakit dr. Karyadi Semarang pada tanggal 17 September 1972 M selama 10 hari. Tanggal 12 Ramadhan 1932 H atau 20 Oktober 1972 M beliau menyempatkan untuk shalat Jum’at di masjid Jami’ Lasem. Saat hari itu juga beliau meninggal dunia pada pukul 2 siang.
            Kepergian beliau sangat dirasakan oleh semua kalangan, mulai dari pejabat tinggi, para kyai, keluarga, masyarakat dan para santri. Upacara pemakaman beliau di banjiri oleh para pelayat dari berbagai daerah.


                [1] Thomafi, M. Luthfi.Mbah Ma’shum Lasem The Authorized Biography of KH. Ma’shum Ahmad.Pustaka Pesantren.Yogyakarta:2007, hlm. 11
                [2]Thomafi, M. Luthfi.Mbah Ma’shum Lasem The Authorized Biography of KH. Ma’shum Ahmad.Pustaka Pesantren.Yogyakarta:2007, hlm. 25
                [3] https://www.facebook.com/photo.php?fbid
                [4] Thomafi, M. Luthfi.Mbah Ma’shum Lasem The Authorized Biography of KH. Ma’shum Ahmad.Pustaka Pesantren.Yogyakarta:2007, hlm. 134

Jumat, 19 September 2014

Westernisasi Impact

Dunia memang semakin maju, kehidupan westernisasi sering kali kita jumpai di berbagai daerah. Tak hanya di perkotaan saja, pelosok desapun tersusun sedemikian rupa. Mulai dari teknologi yang semakin canggih tapi menurunkan SDA manusia. Informasi yang dengan cepat kita dapat mengetahuinya. Hingga masalah perut yang dengan instan kita dapat melahapnya.

Dengan mudah kita dapat menjalin komunikasi dengan orang lain meskipun melewati ribuan pulau. Media sosial acap kali mengisi hari-hari kita. Efek negatif pasti tetap ada di celah-celah kepositifannya. mulai dari masalah membuang waktu, melupakan hal yang seharusnya kita kerjakan lebih dulu hingga masalah hubungan kita denagn sang Khaliq.

Sebagai manusia yang katanya 'nathiq' harus benar-benar berfikir lebih matang. Membagi waktu, dimana yang lebih penting harus didahulukan.

Minggu, 14 September 2014

Together With You

Ketika kebersamaan memberikan senyuman, akankah muncul kesedihan diantara kita. Pasti, yaitu saat jarak dan waktu yang memisahkan kita.Tempat suci ini menjadi sakasi bisu kerukunan kita, canda tawa kita, dan suka duka kita. Sebut saja Pondok Pesantren Al- Mubarok Tahunan Jepara, tempat indah penuh ilmu dan barakah, Insyaallah.

Setelah dua tahun hidup bersama dengan orang-orang asing yang belum pernah aku kenal sebelumnya, aku menjadi lebih dewasa akannya. Satu langkah pasti yang aku tanjakkan berharap berbuah manis suatu saat nanti.